Bambang Bremana

Bambang Bremana adalah putera Betara Brama dan mempunyai saudara laki-laki bernama Bambang Bremani. Sesudah dewasa Bambang Bremana akan di kawinkan dengan putri Betara wisnu (Dewi Srihunon), tetapi Bambang Bremana menolak dan atas permintaanya putri ini dikawinkan dengan saudara mudanya (Bambang Bremani). Perkawinan terlaksana dan dari perkawinan itu lahirlah seorang putera yang bernama Bambang Parikenan.
Setelah Bambang Bremani mendapat putera itu, Dewi Srihunon, istrinya dikembalikan kepada mertuanya (Betara Wisnu) dengan alasan bahwa ia tidak bisa hidup bersama lagi dengan puteri itu. Kemudian Dewi Srihunon diperistrikan oleh Bambang Bremana.
Bambang Bremana bermata jaitan, berhidung mancung, beroman muka tenang, berambut terurai gimbal dan segala pakaiannya serupa dengan Bambang Bremani.
Selengkapnya...

Sang Hyang Brama / Betara Brama

Sang Hyang Brama dalah dewa api (brama berarti api), ia adalah putra Hyang Guru. Ia bersemayam di Deksina. Karena kesaktiannya Sang Hyang Brama dapat membasmi segala keburukan yang menjelekkan dunia ini dengan apinya. Ketika dewa ini dilahirkan, sangat besar pengaruhnya terhadap dunia, mengeluarkan api hingga menjulang ke angkasa. Setelah dewasa, ia beristrikan Dewi Saraswati yaitu putri Hyang Pancadewa yang terkenal karena sangat cantiknya.
Dewa ini pernah bertahta sebagai raja di Gilingwesi setewasnya Prabu Watugunung. Dewa yang bertahta sebagai raja di dunia disebut ngejawantah, menampakan diri. Suatu ketika Sang Hyang Brama menyalahi adat istiadat dewa karena memihak pada Betari Durga. dan bermaksud untuk memusnahkan keluarga Pendawa. Kehendak Sang Hyang Brama di mufakati oleh Betari Durga. Sampai-sampai putri Sang Hyang Brama, Dewi Dresanala yang di peristri oleh Arjuna diceraikan oleh Sang Hyang Brama.
Kehendak Sang Hyang Brama untuk memusnahkan keluarga Pendawa tak terkabul. Malahan Sang Hyang Brama dapat dikalahkan oleh anak Arjuna yang bernama Wisanggeni. Sang Hyang Brama di tangkap oleh Wisanggeni dan diserahkan kepada Hyang Guru. Setibanya di hadapan Hyang Guru, Sang Hyang Brama menjadi sadar akan kekeliruannya. Ia diampuni oleh Hyang Guru dan kembali ke tempat kediaman para dewa di Kahyangan.
Menurut lakon ini, meski dewa sekalipun kalau bersalah bisa dikalahkan oleh manusia. Sang Hyang Brama merupakan pangkal yang menurunkan Pendawa dan ia berbesan dengan Hyang Wisnu.
Sang Hyang Brama Bermata kedondongan, berhidung sembada (serba cukup), dan bibir rapat. Ia bermahkota menandakan bahwa ia dewa yang berkuasa. Ia tidak menyelipkan keris secara yang biasa dilakukan orang, melainkan dengan menyelipkannya di depan. Oleh karena itu ia memakai baju yang yang menutupi bagian belakang badannya. Memakai keris seperti itu disebut nyole yang berarti syak wasangka selalu, sehingga setiap waktu ada bahaya, keris itu mudah dihunus.
Selengkapnya...

Sang Hyang Wisnu

Sang Hyang Wisnu adalah seorang dewa putra hyang guru. Halusnya menitis, menjelma pada raja-raja dan ksatria-ksatria. Sang Hyang Wisnu pernah juga menjadi raja dimuka bumi ini sebagai manusia biasa bertahta di Purwacarita dengan gelar Sri Maha Raja Budakresna. Mereka yang mendapat titisan Sang Hyang Wisnu, menjadi orang-orang sakti dan waspada. Yang mendapat titisan Sang Hyang Wisnu ialah: 1. Prabu Arjunasasrabau dari Maespati, 2. Patih Suanda, 3. Sri Rama, 4. Arjuna, dan 5. Prabu Kresna. Penitisan juga terjadi setelah zaman purwa ialah pada Prabu Jayabaya di kediri. Ketika dewa ini dilahirkan, bumi terpengaruh hingga bergetar, sampai-sampai Batara Guru pun jatuh terpelanting. Setelah dewasa ia beristrikan Dewi Setyabama, putri Hyang Pancaresi.
Sang Hyang Wisnu bisa triwikrama menjadi raksasa yang tidak terhingga besarnya dan memiliki senjata cakra yang sangat sakti. Kesaktian dan senjata cakra itu digunakan oleh titisan Sang Hyang Wisnu sebagai bukti bahwa mereka memang titisannya.
Sang Hyang Wisnu bermata jaitan, berhidung mancung, bermuka agak mendongak (hal yang menandakan bahwa ia bersuara nyaring), bermahkota dengan jamang tiga susun, bergaruda membelakang, sebagian rambutnya terurai, berbaju dan berkain rapekan pendeta, keris terselip di bagian depan, bergelang dan bersepatu.
Selengkapnya...

Sang Hyang Bayu / Betara Bayu

Sang Hyang Bayu adalah dewa angin. Dia putera Betara Guru dan berkuasa mengenyahkan seisi alam ini dengan anginnya. Tanda dewa berjiwa bayu (Angin) ialah berkain poleng (kotak-kotak) dan berkuku pancanaka pada ibu jari. Sang Hyang Bayu mempunyai saudara-saudara tunggal-bayu, sama-sama berkekuatan angin yakni: 1. Sang Hanuman, 2. Wrekodara(Bratasena), 3. Wil Jajahwreka, 4. Begawan Maenaka, dan 5. Liman Satubanda, juga bernama Gajah Sena. Kalau berjalan, kelima saudara ini selalu diikuti angin puyuh dan jalan mereka cepat sekali
Didalam lakon Begawan Palasara Krama(kawin), Sang Hyang Bayu datang sebagai pemisah perselisihan paham antara Palasara dan Sentanu dalam memperebutkan kemuliaan dengan keputusan bahwa Sentanu memilih kemuliaan di Marcapada (dunia), dan Palasara memilih kemuliaan di Kahyangan (akhirat). Selain didalam lakon ini, Sang Hyang Bayu juga kerap kali datang di Marcapada sebagai pemisah, apabila terjadi perselisihan paham.
Ketika perang Baratayuda semakin mendekat, para dewa turun ke negara Astina untuk memisahkan Pendawa dan Korawa yang bersengketa. Betara bayu pun ikut turun namun segala daya upaya para dewa tidak berhasil dan perang akhirnya pecah juga.
Di dalam pewayangan, pada perang penghabisan yang lazim disebut perang sampak, Wrekodara (Bratasena) umumnya menyebabkan musuhnya mati. Setiap kali musuh mati, menarilah Wrekodara dan tarinya itu disebut tari tayungan. Tetapi kalau musuhnya orang Korawa, musuhnya itu tidak mati sebab orang-orang Korawa hanya akan mati kelak didalam perang Baratayuda. Sebelum ada Wrekodara, perang yang penghabisan ini disudahi oleh Sang Hyang Bayu.
Sang Hyang Bayu bermata telengan, berhidung dempak, berkuku pancanata, bermahkota, berjamang tiga susun, berkain poleng, menandakan dewa ini berkesaktian angin.
Selengkapnya...

Sang Hyang Indra / Betara Indra

Sang Hyang Indra adalah putra Hyang Guru. Dewa ini terhitung berkuasa di sebagian Jonggringsalaka, tempat tinggal Hyang Guru yang disebut juga kaendran. Waktu dewa ini dilahirkan, demikian besar pengaruhnya hingga bumi bergetar, angin bertiup sangat kencang dan air laut menghempas sampai meluap ke darat. Kekuasaan Sang Hyang Indra ialah memerintah segala dewa atas titah Hyang Guru. Maka betara Indra pun bertanggung jawab mengenai segala sesuatu di tempat kediaman para dewa. Ia menguasai semua bidadari di sorga. Berkuasa menentukan hadiah-hadiah yang akan di anugerahkan kepada manusia. Karena kekuasaan yang begitu besar, maka Sang Hyang Indra selalu menerima hal-hal yang diajukan oleh insan manusia kepada dewa. Sang Hyang Indra mempunyai dua orang putri yaitu Dewi Tara yang dianugerahkan kepada Raden Sugriwa, seorang ksatria kera. Dan Dewi Tari yang di anugerahkan kepada Prabu Dasamuka, raja raksasa di Alengka.
Sang Hyang Indra bermata seperti buah kedondong, berhidung mancung, berbibir rapat, bermahkota (sebagai tanda bahwa ia adalah seorang raja dewa), berkain rapekan pendeta, berbaju dan bersepatu, dan bergelang.
Selengkapnya...

Dewi Uma

Dewi Uma atau disebut juga Umayi, adalah anak saudagar omaran. Dewi ini sakti, ia pernah bertapa karena ingin berkuasa di dunia ini. Sewaktu bertapa, ia mendapat tulah dan berubah menjadi ikan turbah. Karena kesaktiannya ia dipuja-puja oleh banyak orang. Tetapi setelah datang Betara Guru, ia dikalahkan dan hilanglah segala kesaktiannya. Sesudah menyerah dijadikanlah ia permaisuri Betara Guru. Karena ia dianggap sebagai orang yang sakti, sehingga layaklah kalau dijadikan permaisuri Betara Guru.
Dewi Uma berkuasa di Suralaya dan memerintah segala dewi dalam mengimbangi Betara Guru yang memerintah segala dewa. Tetapi suatu ketika terjadilah sengketa antara suami istri itu. Dewi Uma disumpahi oleh Betara Guru, sehingga berubah menjadi raksasa.
Apa yang terjadi atas diri Dewi Uma dan Betara Guru menjadi bukti, bahwa tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam hal kesaktian, asal saja kesaktian itu berpangkal pada kebenaran. Demikian pula tidak ada perbedaan antara dewa dan dewi dalam hal kekuasaan. Meski Dewi Uma terkena kesaktian Betara Guru, hingga dia berubah menjadi reksesi.
Dewi Uma bermuka tenang dan menunduk, berjamang, bersanggul dengan di hias bunga, sebagian rambutnya terurai, sanggulnya berbentuk polos, bergelang, berkalung bentuk penanggalan bulan sabit, bersepatu, dimana menandakan bahwa dia seorang dewi.
Selengkapnya...

Betara Narada (Kanekaputra)

Betara Narada yang asal namanya adalah Betara Kanekaputra adalah putra Hyang Darmajaka. Ia elok parasnya dan sakti pula. Untuk dapat menambah kesaktiannya, Betara Narada bertapa di atas air samudera dengan tidak bergerak-gerak. Tangan kanannya menggenggam cupu (Cepu) linggamanik yang tak pernah dilepasnya. Perbuatan Betara Narada diketahui oleh Betara Guru yang menanggapinya sebagai usaha Betara Narada untuk menguasai dunia ini. Maka segala dewa oleh Betara Guru dititahkan supaya mencegah kehendak Betara Narada itu sampai-sampai dengan menggunakan senjata, tetapi usaha itu tidak berhasil. Betara Narada tetap di dalam tapa nya. Kemudian Betara Guru sendiri datang menemui Betara Narada dan terjadilah bantah membantah antara kedua dewa itu, dimana Betara Guru keluar sebagai pihak yang kalah bantah. Oleh karenanya Betara Guru merasa lebih muda dari Betara Narada dan untuk selanjutnya menyebut Betara Narada kakang, kanda. Betara Narada kemudian dibawa oleh Betara Guru dan dilantik sebagai ketua semua dewa di Jonggringsalaka, Yakni Istana Segala dewa.
Suatu ketika karena murkanya terhadap Betara Narada, maka muka betara yang tampan ini oleh Betara Guru dirubah hingga menjadi jelek. Dari situlah Betara Narada menjadi sebutan untuk Betara Kanekaputra. Betara Narada bermata kriyipan, berkedip-kedip terus, berhidung dampak mendongak, bermulut terbuka menampakan gigi, berkumis, bermahkota dengan garuda membelakang, berkain rapekan, berkeris bentuk ladrang (panjang), bersepatu.
Selengkapnya...

Betari Durga

Betari Durga adalah seorang dewa perempuan asal jadinya Dewi Uma, Permaisuri Betara Guru. Semasa masih bernama Dewi Uma, ia disayang oleh Betara Guru. Tetapi setelah terjadi persengketaan antara suami istri itu, Dewi Uma mengutuk Betara Guru hingga Betara Guru menjadi Bercaling seperti raksasa. Karena sangat murka, Betara Guru juga menyumpahi Dewi Uma hingga menjadi reksesi bernama Betari Durga. Betari Durga dititahkan menjadi istri Betara Kala. Betari Durga bertakhta di setragandamayit, yang berarti tempat pengasingan berbau mayat. Ia diberi kekuasaan untuk menganugerahkan segala prilaku jahat kepada yang memuja padanya.
Betari adalah sebutan bagi seorang dewa perempuan. Betari Durga bermuka Raksasa, bermata iblis, berhidung dampak, bermulut bernyih, bersanggul putri keling dengan garuda membelakang, berkalung ulur-ulur (rantai), tangannya bergelang pontoh dan keroncong dan hanya tangan depan yang bisa digerakkan. Sebagai pertanda kemuliaan, bagian bawah badannya dihiasi dengan bunga-bunga.
Selengkapnya...

Lembu Andhini

Lembu Andhini adalah seekor lembu betina anak raja jin bernama Patanam. Karena ingin menguasai alam ini, bertapalah dia dan di puja-puja oleh penduduk di sekelilingnya. Akhirnya orangpun beranggapan bahwa Lembu Andhini adalah dewa juga. Betara Guru (Manikmaya) mengetahui akan hal ini. Maka Lembu Andhini pun dikalahkannya dan dijadikan kendaraan yang tak terpisah daripadanya. Tapi Lembu Andhini tidak merasa senang diperlakukan demikian, dan tak henti-hentinya dia berdaya upaya untuk berbalas dendam. Akhirnya Lembu Andhini menemukan akal untuk mengadu dombakan Betara Guru dengan permaisurinya, hingga mereka sampai berperang. Sesudah permaisurinya dikalahkan, menjadi tahulah Betara Guru bahwa semua itu di akibatkan oleh Lembu Andhini. Menjadi murka lah Betara Guru dan disumpahilah Lembu Andhini berubah menjadi sebuah pelangi. Takhayul mengatakan, bahwa pelangi berkepala lembu dan kalau kelihatan maka pada saat itu Lembu Andhini sedang minum air laut.
Setelah kehilangan kendaraanya, Betara Guru merasa lemah. Tetapi dia segera mendapat gantinya berupa seekor lembu jantan bernama Andana, anak seorang raksasa bernama Gopatama. kemudian nama Andana digantinya dengan Andhini seperti kendaraanya semula.
Menurut cerita jaman dahulu lembu digunakan sebagai kendaraan, karena lembu sangat patuh dan kuat berjalan di tempat-tempat yang sukar. Kata Lembu juga banyak di pakai di dalam nama orang-orang kenamaan. Seperti, Lembuamiluhur: seorang raja di negara jengala, Lembupeteng: seorang keturunan raja yang hidup bersembunyi, dan Lembusura: seorang raja raksasa di gua kiskenda.
Selengkapnya...

Sang Hyang Guru / Betara Guru (Manikmaya)

Manikmaya adalah seorang dewa, dia adalah putra Hyang Tunggal yang dilahirkan berupa cahaya putih gemerlapan bersama Ismaya. Hyang tunggal bersabda bahwa Manikmaya kelak akan menguasai alam ini karena kesaktian dan ketampanannya. Karena dia menerima sabda itu dia pun merasa bangga dan merasa dirinya tidak ada cacad sedikitpun. Perasaan ini pun di ketahui oleh Hyang Tunggal dan merubah sabdanya itu bahwa Manikmaya akan mendapatkan cacad berupa belang di leher, lemah di kaki, caling di mulut dan bertangan empat. Manikmaya pun merasa bersalah dan menyesal telah takabur dalam dirinya, karena semua itu menjadi kenyataan.
Pada waktu Nabi Isa lahir, Manikmaya datang karena ingin menyaksikan sesuatu yang beda yaitu seorang bayi berumur sebulan belum bisa berjalan. Keadaan yang berbeda sekali dengan para dewa. Dan dia menganggap yang di saksikannya itu sesuatu yang tidak sempurna. Pada saat itu pula kaki kirinya menjadi lemah.
Suatu ketika Manikmaya merasa dahaga dan dilihatnya sebuah telaga yang jernih airnya, dan dia pun meminum air dari telaga tersebut. Tetapi begitu air telaga itu di teguknya, terasa olehnya bahwa air itu berbisa dan dimuntahkannya kembali. Manikmaya terkena sumpah permaisurinya Dewi Uma yang menginginkan supaya Manikmaya bercaling seperti raksasa. Seketika itu pula bercalinglah Manikmaya seperti raksasa. Sumpah Dewi Uma pada waktu itu disebabkan karena Manikmaya tidak dapat menahan nafsunya.
Ketika Manikmaya melihat orang bersembahyang dengan menyelimutkan bajunya, dia tertawa karena mengira bahwa orang itu bertangan empat. Seketika itu pula tubuh Manikmaya bertangan empat.
Selengkapnya...